Aggiornamento
https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt
<p><strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual</strong> adalah sebuah jurnal ilmiah terbuka yang berfokus pada isu-isu kontekstual yang terkait dengan usaha pengembangan ilmu Filsafat dan Teologi Kontekstual. <strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual</strong> menerima hasil kajian filosofis dan teologis dari studi interdisipliner.</p> <p>Jika anda belum mendaftar, silakan klik <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/user/register">Register</a>. Jika anda sudah memiliki akun, silakan klik <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/login">Login</a>.</p> <p><strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual</strong> is an open access scientific journal that focuses on contextual issues related to the development of Contextual Philosophy and Theology. <strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual </strong>accepts philosophical and theological studies from interdisciplinary studies.</p> <p>If you have not yet registered, please click <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/user/register">Register</a>. If you already have an account, please click <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/login">Login</a>.</p>Aggiornamentoen-USAggiornamento2746-4695TANGGUNG JAWAB ETIS SEBAGAI LANDASAN MAKNA HIDUP MANUSIA; TINJAUAN FILSAFAT EMMANUEL LEVINAS
https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/193
<p><strong><em>Absrak:</em></strong><em>Fokus tulisan ini ialah </em><em>membahas konsep tanggung jawab sebagai landasan fundamental dalam memahami makna hidup manusia berdasarkan sudut pandang filosofis. Dalam kacamata filsafat </em><em>E</em><em>mmanuel Levinas,</em><em> </em><em>konsep tanggung jawab terhadap “Yang Lain” merupakan esensi dari eksistensi manusia yang melampaui egoisme dan kehadirannya. Konsep tanggung jawab,</em><em> bukanlah sesuatu yang dapat diukur atau dibatasi oleh aturan atau norma eksternal</em><em>, tetapi tanggung jawab bersifat permanen</em><em>.</em><em> </em><em>Dapat diartikan bahwa</em><em> tanggung jawab merupakan suatu kewajiban</em><em> moral</em><em> yang melekat </em><em>dalam realitas keseharian manusia terhadap orang lain. </em><em>Dalam memahami tanggung jawab, </em><em>r</em><em>elasi etis dengan “Yang Lain” merupakan pusat refleksi filosofis </em><em>karena </em><em>manusia menemukan makna hidup melalui hubungan, keterbukaan dan pengakuan akan kehadiran orang lain.</em><em> Sebuah </em><em>pengakuan terhadap “Yang Lain” memungkinkan relasi etis </em><em>di mana</em><em> manusia menemukan makna hidupnya yang lebih mendalam bersama orang lain the other. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi literatur komperatif, dengan </em><em>mengumpulkan</em><em> data dari berbagai sumber sebagai </em><em>referensi </em><em>untuk lebih mendalami makna hidup manusia, serta memberikan perbandingan dengan pemikir-pemikir lainnya untuk lebih mendalami </em><em>filsafat Emmanuel Levinas.</em><em> Sumbangan dari konsep tanggung jawab </em><em>E</em><em>mmanuel Levinas terhadap kehidupan masa kini ialah; dalam tanggung jawab, manusia bukan sekadar </em><em>agen</em><em> moral, tetapi </em><em>sebagai subjek yang berintegrasi </em><em>mengungkapkan makna terdalam dalam konteks kehadiran “Yang Lain”. Dalam pendekatan </em><em>konsep tanggung jawab</em><em>, Levinas mengajak manusia untuk memahami diri mereka bukan sebagai subjek yang terisolasi, melainkan sebagai makhluk </em><em>terintegrasi</em><em> secara etis dengan sesama dalam berbagai aspek kehidupannya. </em></p>Marsianus Jirin
Copyright (c) 2025 Aggiornamento
2026-02-032026-02-0361KRISIS KEBERADAAN DALAM MASYARAKAT MODERN
https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/182
<h2>Abstract</h2> <p><em>Fenomena alienasi sosial di tengah masyarakat modern menjadi masalah yang semakin kentara, terutama di lingkungan urban yang lebih mengutamakan produktivitas dan kesuksesan material. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena alienasi sosial dengan menggunakan pendekatan metafisika melalui konsep esse (keberadaan aktual) dan ens (entitas yang ada). Dalam situasi demikian, banyak individu merasa kehilangan makna dan tujuan hidup karena tekanan budaya yang mendorong pencitraan diri dan kepuasan material. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif melalui kajian literatur metafisika klasik, terutama pemikiran Thomas Aquinas terkait pentingnya esse sebagai prinsip aktualitas. Kerangka teori yang digunakan menerangkan bahwa esse merupakan inti keberadaan sejati (true being) yang jika tidak tercapai maka akan menyebabkan krisis eksistensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alienasi sosial merupakan manifestasi dari krisis esse, di mana individu hanya ada sebagai ens tanpa mencapai titik keberadaan aktual yang sejati. Dengan demikian, pendekatan filosofis yang berfokus pada aktualisasi esse dapat menjadi solusi yang memungkinkan individu untuk menemukan makna dan tujuan hidup yang lebih otentik ketika menghadapi fenomena alienasi sosial. </em></p>Santo Yohanes
Copyright (c) 2025 Aggiornamento
2026-02-032026-02-0361Metafisika MAKNA PEPATAH JAWA “DUDU SANAK, DUDU KADANG, YEN MATI MELU KELANGAN”
https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/187
<p><em>Salah satu pepatah filosofis yang terkenal bagi masyarakat Jawa ialah "Dudu sanak, dudu kadang, yen mati melu kelangan". Pepatah tersebut mengandung nilai-nilai filosofis mendalam yang menekankan betapa pentingnya mengutamakan sikap solidaritas dan tanggung jawab terhadap sesama tanpa meributkan batasan hubungan ataupun kesamaan genetika. Dalam pandangan filsafat modern, filsuf Ortega y Gasset mengajukan konsep "Aku ada belum penuh," yang menggambarkan keberadaan manusia sebagai proses yang terus tumbuh dan berkembang melalui relasi dengan orang lain. Tulisan ini hendak mengeksplorasi secara mendalam hubungan antara kedua konsep tersebut serta mengintegrasikan nilai kearifan lokal yang didapat melalui filosofis Jawa dengan pandangan eksistensial modern untuk memperkaya pemahaman tentang keberadaan manusia. Untuk dapat menggali kedua konsep filosofis tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur dari beberapa sumber. Pepatah filosofis Jawa lebih menekankan kebersamaan dan kontribusi sosial yang tampak melalui relasi dengan orang lain, sementara Ortega memandang kebutuhan manusia akan hubungan (relasi) sangat bermakna dan berpengaruh untuk mengisi kekosongan eksistensialnya. </em><em>Pada era modern yang penuh dengan tantangan seperti individualisme dan fragmentasi antar manusia, integrasi kedua pemikiran ini menawarkan sebuah solusi untuk mengatasinya. Kedua pemikiran filosofis ini mampu memberikan kesadaran tentang pentingnya solidaritas dan relasi yang sehat untuk menciptakan kehidupan bersama yang harmoni. </em><em> </em></p>Novan Bayu Aji Saputro
Copyright (c) 2025 Aggiornamento
2026-02-032026-02-0361