Aggiornamento https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt <p><strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual</strong> adalah sebuah jurnal ilmiah terbuka yang berfokus pada isu-isu kontekstual yang terkait dengan usaha pengembangan ilmu Filsafat dan Teologi Kontekstual. <strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual</strong> menerima hasil kajian filosofis dan teologis dari studi interdisipliner.</p> <p>Jika anda belum mendaftar, silakan klik <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/user/register">Register</a>. Jika anda sudah memiliki akun, silakan klik <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/login">Login</a>.</p> <p><strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual</strong> is an open access scientific journal that focuses on contextual issues related to the development of Contextual Philosophy and Theology. <strong>AGGIORNAMENTO: Jurnal Filsafat Teologi Kontekstual </strong>accepts philosophical and theological studies from interdisciplinary studies.</p> <p>If you have not yet registered, please click <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/user/register">Register</a>. If you already have an account, please click <a href="https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/login">Login</a>.</p> Aggiornamento en-US Aggiornamento 2746-4695 PENYINGKAPAN TANDA IDENTITAS YESUS SEBAGAI MESIAS MENURUT YOHANES 8:37-47 https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/255 <p>Tulisan ini mengkaji penyingkapan identitas Yesus sebagai Mesias melalui analisis eksegetis terhadap teks Yohanes 8:37-47. Fokus utama penelitian ini adalah dinamika perdebatan sengit antara Yesus dan orang-orang Yahudi yang terjadi selama perayaan Hari Raya Pondok Daun (<em>Sukkot</em>) di Yerusalem. Penulis mengeksplorasi identitas ke-Mesias-an Yesus dinyatakan secara implisit melalui penggunaan tanda atau simbol di tengah krisis kebenaran yang dialami oleh para pendengar-Nya. Hasil analisis menunjukkan bahwa perdebatan tersebut membongkar kepalsuan klaim spiritual orang-orang Yahudi yang mengaku sebagai keturunan Abraham dan anak-anak Allah. Yesus menegaskan bahwa identitas rohani sejati tidak ditentukan oleh garis keturunan jasmani, melainkan oleh tindakan yang selaras dengan kehendak Allah, yaitu mendengarkan firman dan mengasihi utusan-Nya. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Yesus menyebut lawan-lawan-Nya sebagai “anak-anak iblis” karena keinginan mereka untuk membunuh dan ketidakmampuan mereka menerima kebenaran. Secara teologis, penelitian ini menyimpulkan bahwa Yohanes menggunakan narasi perdebatan ini untuk menyingkapkan identitas Yesus sebagai Mesias dalam tiga karakter utama, yaitu: Jalan Kasih (<em>he hodos tes agapes</em>), sebagai lawan dari pembunuhan; Terang Kebenaran (<em>phos aletheia</em>), sebagai lawan dari kedustaan; Air Kehidupan (<em>hydor zoes</em>), sebagai lawan dari kematian rohani. Melalui refleksi ini, pembaca diajak untuk menyadari bahwa menjadi milik Allah berarti tinggal dalam firman Yesus dan memberikan kesaksian hidup melalui kasih dalam kebenaran.</p> Gabriel Babtistuta Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 1 10 10.69678/aggiornamento711-10 YESUS MEMANGGIL MATIUS: “IKUTLAH AKU” https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/225 <p><em>Penelitian ini berfokus pada naratif konsep Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa dalam Injil Matius 9:9-13 dan implikasinya bagi pelaksanaan misi Gereja. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis naratif untuk menggali makna mendalam dari perikop tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana panggilan Yesus kepada Matius mencerminkan prinsip inklusivitas dan belas kasih Allah, serta untuk mengeksplorasi dampaknya terhadap pemahaman misi Gereja dalam konteks sosial saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panggilan Yesus kepada Matius bukan hanya sekadar undangan untuk mengikuti-Nya, tetapi juga sebagai tindakan transformatif yang memberikan contoh nyata tentang bagaimana umat Kristen harus bersikap terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Matius menunjukkan respons pertobatan yang mengubah hidupnya, menandakan pentingnya perubahan dalam mengikuti Yesus. Rekomendasi dari penelitian ini adalah agar Gereja mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dalam misi pelayanannya, dengan membuka diri terhadap mereka yang terpinggirkan, serta menerapkan prinsip-prinsip belas kasih dan pengertian dalam interaksi dengan masyarakat. Hal ini diharapkan dapat membawa lebih banyak orang kepada kasih Allah dan memperkuat peran Gereja sebagai agen perubahan dalam komunitas. </em></p> Fransesco Agnes Ranubaya Adrianus Ariberto Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 11 28 10.69678/aggiornamento7111-28 DIALOG INTERRELIGIUS DALAM MEMBANGUN RELASI HARMONIS MAHASISWA LINTAS AGAMA (Studi Kualitatif Pada Anggota Formaka (Forum Mahasiswa Keuskupan Sanggau) Di Malang Raya) https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/231 <p><em>Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, baik dari segi agama, budaya maupun latar belakang sosial. Dalam konteks kehidupan kampus yang plural, perjumpaan mahasiswa dari berbagai agama menjadi hal yang tidak terhindari. Situasi ini menuntut adanya sikap saling menghargai agar perbedaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan menjadi ruang untuk membangun relasi yang harmonis. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui dialog interreligius yang memungkinkan terjadinya perjumpaan dan komunikasi antarmahasiswa lintas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dialog interreligius dalam membangun relasi harmonis mahasiswa lintas agama, khususnya pada anggota FORMAKA (Forum Mahasiswa Keuskupan Sanggau) di Malang Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap lima anggota FORMAKA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog interreligius dalam kehidupan mahasiswa lebih banyak terjadi melalui interaksi sehari-hari, seperti percakapan informal, diskusi mengenai tradisi keagamaan, serta kerja sama dalam kegiatan kampus. Proses tersebut membantu menumbuhkan sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka dan kerja sama lintas agama di antara mahasiswa. Dengan demikian, dialog interreligius memiliki peran penting dalam membangun relasi yang harmonis serta memperkuat kehidupan bersama di lingkungan kampus yang plural.</em></p> Meriyadi Tanggok Armada Riyanto Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 29 36 10.69678/aggiornamento7129-36 HARMONI CINTA DALAM RELASI “AKU” DAN “LIYAN” https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/229 <p><em>Indonesia sebagai bangsa multietnis menyimpan kekayaan kultural sekaligus potensi konflik yang kerap memengaruhi relasi antarindividu, khususnya di kalangan kaum muda. Dalam konteks ini, relasi antara aku dan liyan tidak dapat dipahami sekadar sebagai perjumpaan sosial biasa, melainkan sebagai ruang etis tempat cinta diuji, dibentuk, dan dihidupi secara konkret. Paper ini bertujuan mengkaji harmoni cinta dalam relasi aku dan liyan sebagai fondasi etika solidaritas kaum muda di tengah pluralitas etnis di Indonesia. Dengan pendekatan reflektif-kontekstual, tulisan ini menyoroti bagaimana prasangka, eksklusivisme identitas, serta warisan konflik sosial dapat menghambat relasi yang autentik, sekaligus membuka peluang bagi praksis solidaritas yang transformatif. Harmoni cinta dipahami bukan sebagai ketiadaan perbedaan, melainkan sebagai sikap etis yang mengakui martabat liyan, merawat dialog, dan menumbuhkan tanggung jawab bersama. Temuan reflektif menunjukkan bahwa kaum muda memiliki peran strategis sebagai agen perdamaian melalui praksis solidaritas yang berakar pada empati, keterbukaan, dan komitmen terhadap keadilan sosial. Dengan demikian, etika solidaritas yang berlandaskan harmoni cinta menjadi jalan kontekstual bagi kaum muda Indonesia untuk membangun relasi lintas etnis yang inklusif, humanis, dan berkelanjutan.</em></p> cosmas bruno Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 37 44 10.69678/aggiornamento7137-44 BANALITAS KEJAHATAN ORANG MUDA DALAM TRUE CRIME COMMUNITY MENURUT HANNAH ARENDT https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/233 <p><em>Fenomena kriminal yang melibatkan orang muda sebagai pelaku menjadi bentuk nyata realitas kejahatan dan kekaburan dalam memahami etika. Sebagian dari mereka ternyata tergabung dalam sebuah komunitas yang dikenal sebagai True Crime Community (Komunitas Kejahatan Sejati). Komunitas ini menjadi tempat dimana orang muda meluapkan obsesi terhadap perilaku kriminal. Orang muda yang sudah terobsesi tertarik untuk melakukan tindak kejahatan yang terinspirasi dari pelaku serangan sebelumnya. Penulis mencoba melihat fenomena ini dalam sudut pandang Hannah Arendt yang berbicara tentang banalitas kejahatan. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan menyertakan sumber-sumber yang relevan terkait pokok pembahasan dalam tulisan ini. Penulis mencoba menunjukkan kaitan fenomena orang muda yang patuh secara buta dalam komunitas kejahatan tersebut dan solusi yang relevan dengan masa kini berdasarkan perspektif Hannah Arendt.</em></p> Donisius Putra Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 45 52 10.69678/aggiornamento7145-52 ETIKA TERHADAP LIYAN DALAM BAYANG-BAYANG HUKUM POSITIVISME DAN KRITIK DEKOLONIAL ATAS PRAKTIK INTOLERANSI DI INDONESIA https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/236 <p><em>Tulisan ini berangkat dari realitas keberagaman Indonesia yang di satu sisi menjadi kakayaan sosial, namun di sisi lain diwarnai oleh praktik intoleransi, terutama terhadap kelompok minoritas. Permasalahan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam relasi serta kecendrungan hukum positivistik yang belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan yang manusiawi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep etika terhadap liyan, menganalisis pengaruh hukum positivisme terhadap praktik intoleransi, serta menunjukkan relevansi kritik dekolonial dalam membangun relasi yang lebih adil. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Kerangka teori yang digunakan meliputi filsafat etika Emmanuel Levinas tentang tanggung jawab terhadap liyan, konsep relasionalitas Armada Riyanto, kritik kekuasaan Michel Foucault, serta perspektif dekolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan hukum yang terlalu formaslistik cenderung mengabaikan dimensi etis dan kemanusiaan, sehingga berpotensi melegatimasi praktik intoleransi. Oleh karena itu, diperlukan integrasi etika terhadap liyan dan pendekatan dekolonial guna membangun kesadaran intersubjektif, sehingga hukum tidak hanya sah secara legal, tetapi juga adil, mansuiawi, dan mampu melindungi seluruh warga tanpa diskriminasi</em></p> Sergius Hendi Sergius Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 52 65 BIOPOLITIK NUTRISI DAN CAPABILITIES APPROACH ETIKA PATERNALISME DALAM KEBIJAKAN “MAKAN BERGIZI GRATIS” DI INDONESIA https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/241 <p><em>Pelaksanaan program nasional “Makan Bergizi Gratis” oleh pemerintahan transisi Indonesia tahun 2025 memunculkan diskursus baru yang melampaui sekadar analisis kebijakan publik dan kalkulasi ekonomi. Artikel ini membedah kebijakan tersebut melalui perspektif filsafat politik untuk menguji ketegangan etis antara kewajiban moral negara dan batas kebebasan individu. Dengan menyilangkan Capabilities Approach dari Amartya Sen dan Martha Nussbaum dan kritik terhadap paternalisme negara dalam konsep kebebasan positif Isaiah Berlin serta biopolitik dari Michel Foucault, studi ini mengeksplorasi dua tesis utama. Pertama, dari perspektif Capabilities Approach, intervensi nutrisi yang dikonseptualisasikan sebagai prasyarat fundamental bagi kebebasan sejati; gizi yang layak adalah fondasi yang membebaskan kapabilitas dasar manusia agar berfungsi di ruang publik. Kedua, dari kacamata kritik paternalisme dan biopolitik, kebijakan ini dianalisis sebagai bentuk pendisiplinan “tubuh-tubuh produktif” yang di mana negara berpotensi merampas keagenan domestik (dalam artian ini: keluarga) demi mencetak sumber daya manusia yang mengabdi pada kepentingan petinggi dan eksistensi negara di masa depan. Melalui metode analisis filosofis, artikel ini menemukan bahwa program “Makan Bergizi Gratis” yang beroperasi dalam suatu paradoks, yang membebaskan sekaligus mendisiplinkan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pergeseran lokus evaluasi program bantuan sosial dari efektivitas pragmatis menuju perdebatan etis mengenai sejauh mana negara dibenarkan untuk mengintervensi ranah privat (bekal rakyat) demi mencapai apa yang diklaim sebagai “kebaikan objektif” warga Indonesia.</em></p> Wendi Setiawan Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 66 78 FENOMENOLOGI KESEPIAN: REKONSTRUKSI EKSISTENSI AKU DIALOGAL DALAM KERANGKA RELASIONALITAS ARMADA RIYANTO https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/article/view/237 <p><em>Fenomena kesepian yang diteliti yakni bukan hanya sebagai individualisme, tetapi menjadi krisis eksistensial yang memisahkan esensi manusia sebagai mahluk sosial. Metode kualitatif digunakan peneliti dalam pendekatan studi literatur, sumber pendukung berupa buku penujang dan jurnal yang relevan juga digunakan untuk penelitian. Tujuan peneliti dalam penelitian ini untuk membangun kembali eksistensi aku dialogal dalam filsafat relasionalitas Armada Riyanto. Analisis ini menunjukan bahwa kesepian sering kali berakar pada kegagalan individu dalam mengenali kehadiran sesama sebagai bagian integrasi dirinya. Melalui kaca mata relasionalitas, kesepian ditransformasikan dari ruang hampa menjadi ruang reflektif yang memugkinkan Aku untuk menyadari kerentanannya dan membuka diri pada dialog yang tulus terhadap sesama yang menjadi bentuk relasi antara pribadi dengan liyan. Kesimpulan temuan penelitian ini bahwa kesepian bukan pelarian dari kesendirian itu sendiri, tetapi memulihkan kesadaran dialogal yang mengutamakan relasi menjadi inti dari eksistensi. perekonstruksian ini memberikan perspektif baru untuk memandang kesepian sebagai gerbang menuju perjumpaan yang dalam dan humanis.</em></p> Nando6yo pernando FX. Eko Armada Riyanto Copyright (c) 2026 Aggiornamento 2026-06-30 2026-06-30 7 1 79 87 10.69678/aggiornamento7179-87